The only hypnotherapy school in Indonesia approved by American Council of Hypnotist Examiners (ACHE), USA
Judul artikel ini terinspirasi dari pernyataan Milton Erickson (1986), “The symptom is a solution.” Judul di atas sedikit berbeda karena saya mengubah “a” dengan “the” sebagai penekanan bahwa solusi dari satu masalah pasti dapat dicapai melalui simtom yang dialami klien.
Apakah yang dimaksud dengan”the symptom is the solution”?
Adanya suatu masalah disadari dan diketahui karena adanya simtom yang bisa dirasakan, baik pada level fisik maupun pikiran dan atau emosi. Dengan kata lain simtom ini berguna sebagai pemberitahuan resmi kepada diri kita akan adanya masalah yang perlu mendapat perhatian dan diselesaikan.
Simtom yang tidak terlalu mengganggu biasanya kurang mendapat perhatian. Biasanya bila intensitas gangguan yang ditimbulkan simtom telah cukup atau sangat mengganggu aktivitas sehari-hari barulah kita akan memberikan perhatian dan berusaha untuk bisa segera menghilangkan simtom ini.
Simtom ibarat asap. Tidak mungkin ada asap tanpa ada api. Dengan adanya asap kita dapat mencari dan menemukan api yang menjadi sumber munculnya asap. Selama api belum dipadamkan maka asap akan selalu muncul. Demikian pula simtom.
Ada dua pendekatan yang biasa digunakan dalam menyelesaikan masalah yaitu pendekatan simtomatik dan kausal. Pendekatan simtomatik bertujuan mengurangi atau menghilangkan simtom tanpa perlu menemukan dan memproses akar masalah yang melandasi munculnya simtom. Ini sama dengan menghilangkan asap tanpa mematikan api. Pendekatan ini biasanya menghasilkan solusi temporer. Cepat atau lambat akan muncul simtom yang sama atau yang berbeda.
Bila muncul simtom yang berbeda, namun dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dikenal dengan mutasi simtom. Bila muncul lebih banyak simtom, bisa sama maupun berbeda, dan tetap dengan akar masalah yang sama, maka kondisi ini dinamakan proliferasi simtom.
Sebaliknya dalam pendekatan kausal simtom dihilangkan dengan cara menemukan dan memproses sumber penyebab munculnya simtom. Asap dihilangkan dengan memadamkan api. Elimasi simtom dengan pendekatan ini sifatnya permanen.
Lalu, mengapa sampai muncul simtom? Apa pesan yang ingin disampaikan simtom? Dengan adanya simtom ini baik atau buruk?
Pembaca, tahukah anda bahwa yang kita namakan simtom atau masalah dulunya adalah solusi. Namun saat klien datang dan meminta bantuan terapis, yang terjadi adalah solusi ini telah berubah menjadi masalah.
Simtom adalah solusi, namun ini adalah solusi bagi sesuatu yang terjadi jauh di masa lalu, dan sudah tidak efektif untuk menyelesaikan stres atau masalah yang kini dihadapi.
Saya beri dua contoh dari kasus yang pernah saya tangani. Seorang anak, katakanlah usia 8 tahun, kelas 2 SD, merasa sekolah cukup membebani dirinya. Ada banyak tugas dan ulangan. Satu hari ia merasa cukup tertekan, jenuh, dan tidak tahan lagi. Ada banyak tugas yang belum ia kerjakan padahal besok ada ujian matematika.
Karena merasa tidak tahan akhirnya anak jatuh sakit sehingga tidak perlu masuk sekolah. Dengan tidak masuk sekolah maka ia tidak terbebas dari keharusan mengikuti ujian. Sakit, dalam contoh ini, adalah solusi bagi masalah si anak agar terhindar dari keharusan belajar dan mengikuti ujian.
Saat ini solusi ini terjadi, dan biasanya akan terulang saat anak mengalami atau menghadapi situasi yang mirip atau sama, pikiran bawah sadar anak mencatat bahwa untuk menyelesaikan masalah banyak tugas dan ujian maka solusi terbaik adalah dengan menjadi sakit.
Awal atau kali pertama solusi ini terjadi dinamakan dengan ISE atau initial sensitizing event. Sedangkan kejadian berikut yang mirip atau sama dengan kejadian sebelumnya yang membuat pikiran bawah sadar memunculkan solusi yang sama disebut dengan SSE atau subsequent sensitizing event.
Diawali dengan ISE dan dilanjutkan dengan satu atau beberapa SSE mengakibatkan solusi sakit menjadi permanen untuk situasi yang penuh tekanan, stress, dan rasa tidak nyaman. Pola ini akan terbawa sampai dewasa.
Contoh kedua. Seorang staff marketing yang cemas dan tegang karena ditegur keras oleh pimpinannya karena tidak berhasi mencapai target merasa sangat tertekan dan berusaha mencari jalan untuk bisa segera mengakhiri pertemuan ini. Pikiran bawah sadarnya memberi respon dalam bentuk kepalanya menjadi pusing, pandangan mulai gelap, dan akhirnya ia mual dan mau muntah. Sudah tentu pertemuan dengan pimpinannya harus segera diakhiri karena kondisinya tidak memungkinkan untuk diteruskan.
Kepala pusing, pandangan mata gelap, mual dan mau muntah adalah solusi bagi masalah yang dihadapi staff marketing ini. Solusi ini dicatat dengan sangat baik oleh pikiran bawah sadarnya. Berikutnya, bila ia menghadapi situasi yang sama atau mirip dengan situasi sebelumnya maka pikiran bawah sadar akan kembali memunculkan solusi yang sama.
Pada dua contoh kasus yang saya ceritakan di atas jalan keluar dari satu masalah yang dulu adalah solusi kini justru menjadi masalah.
Lalu, bagaimana membuat solusi dari masa lalu yang berubah menjadi masalah di masa sekarang untuk bisa kembali menjadi solusi dari suatu masalah dalam hidup klien?
Kembali ke judul artikel ini. The Symptom is the solution. Terapis perlu mencari dan menemukan apa masalah yang hendak diselesaikan oleh simtom ini. Simtom ini dulunya adalah solusi dari satu masalah, di masa lalu. Berarti simtom sebenarnya bertujuan melindungi klien. Simtom adalah sesuatu yang baik.
Sebagai terapis kita perlu menemukan apa masalah awal yang ingin diselesaikan atau diatasi oleh simtom ini dan dalam situasi seperti apa solusi ini muncul.
“Solusi” atau lebih tepatnya disebut simtom muncul saat sesuatu dalam lingkungan internal maupun eksternal memicu memori tertentu. Hal ini mengaktifkan kembali kondisi di mana simtom ini tercipta, dan simtom terpicu sebagai sebuah respon terkondisi.
Dari penjelasan di atas terapis dapat berasumsi, tapi tidak selalu, bahwa saat ISE terjadi, klien mengalami pengalaman yang intens, seperti takut, marah, sedih, perasaan bersalah, yang sesuai dengan kondisi saat itu.
Kejadian berikutnya baik yang sama atau yang oleh klien dipersepsikan sama dengan kejadian awal (ISE) mengaktifkan emosi yang sama. Proses repetisi ini memperkuat emosi yang sebelumnya telah muncul.
Walau kejadian awal (ISE) sudah tidak lagi ada atau terjadi namun emosi serupa terus muncul setiap kali klien mengalami hal yang sama atau serupa dengan ISE.
Solusi yang dipilih atau diputuskan klien untuk dilakukan untuk mengatasi keadaan atau situasinya dulu mungkin sudah tepat untuk situasi saat itu, dan mungkin adalah satu-satunya opsi yang ia punya / miliki (karena keterbatasan pilihan atau kondisi yang tidak memungkikan untuk punya pilihan lain).
Tugas terapis, setelah berhasil menemukan ISE, adalah menetralisir emosi negatif, bila ada, yang timbul akibat kejadian itu, serta dilanjutkan dengan melakukan edukasi ulang pada pikiran bawah sadar klien. Ada sangat banyak teknik reedukasi pikiran bawah sadar yang bisa digunakan.
Salah satunya adalah dengan menggunakan kesadarannya pada usia saat ini klien mengamati apa yang terjadi di masa lalu dan memberikan pemaknaan baru. Teknik ini hanya bisa dilakukan dengan membawa klien masuk ke level kedalaman trance tertentu sehingga klien mengalami regresi dengan hipermnesia tipe 1.
Cara lain adalah dengan membawa klien mundur dan mengalami kembali kondisi yang menjadi masalah di masa lalu dan melakukan pemaknaan, membuat pilihan yang lebih cerdas, dan rekonstruksi memori. Teknik ini membutuhkan kedalaman trance yang jauh lebih dalam di mana klien mengalami revivifikasi tipe 1.
Setelah dilakukan terapi dan reedukasi pikiran bawah sadar maka simtom akan hilang secara permanen dan klien sembuh.
Bagaimana bila ternyata klien kambuh?
Ada beberapa kemungkinan. Pertama, simtom yang sama muncul kembali karena terapis gagal menemukan ISE. Kedua, simtom yang sama muncul sebagai akibat dari akar masalah yang berbeda. Ini terjadi karena pikiran bawah sadar memilih the path of least resistance yaitu jalur komunikasi yang sudah dikenal dan telah digunakan sebelumnya. Ketiga, simtom muncul dari akar masalah yang sama, yang sebelumnya sudah dibereskan, namun ternyata emosi yang mendasari munculnya simtom ini adalah emosi yang berbeda.
Seorang calon klien, sebut saja Pak Edi, menghubungi saya melalui sms dan minta bertemu dengan penjelasan, “Saya pernah diterapi oleh Pak Budi seorang hipnoterapis. Hasilnya nol besar. Pak Budi tidak bisa membawa saya sampai kondisi trance. Saya juga tidak tahu apa sebabnya saya sulit dihipnoterapi. Kemungkinan Pak Budi belum menguasai ilmu cara kerja pikiran dan tidak memahami jenis-jenis / tipe cara berpikir seorang klien.”
Saat ditanya lebih lanjut apa masalahnya dan sudah berapa kali ia menjalani terapi dengan Pak Budi, Pak Edi tidak memberi jawaban hingga artikel ini saya tulis.
Pembaca, saya tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi dalam proses terapi yang dijalani Pak Edi. Kebetulan saya kenal Pak Budi. Saya tahu Pak Budi cakap dan kompeten melakukan hipnoterapi.
Artikel ini saya tulis untuk memberikan informasi khususnya bagi klien yang ingin menjalani hipnoterapi sebagai jalan keluar untuk mengatasi masalahnya agar dicapai hasil optimal seperti yang diharapkan.
Pertanyaan awal yang perlu diajukan, “Apakah benar hipnoterapi efektif dalam membantu mengatasi masalah yang berhubungan dengan mental dan emosi?”
Survei literatur psikoterapi yang dilakukan Alfred A. Barios, Ph.D., dan dimuat di American Health Magazine menyatakan hal menarik berikut:
- Psikoanalisa : 600 sesi, sembuh 38%
- Behavior Therapy: 22 sesi, sembuh 72%
- Hipnoterapi : 6 sesi, sembuh 93%.
Dengan demikian sebenarnya tidak ada keraguan mengenai keefektifan hipnoterapi. Pertanyaan berikutnya, “Mengapa hipnoterapi dalam kasus tertentu ternyata tidak efektif?”
Ada banyak faktor yang menyebabkan hipnoterapi tidak efektif. Saya akan jelaskan beberapa faktor penting yang perlu diketahui klien sebelum menjalani hipnoterapi. Faktor-faktor ini saya rangkum dari pengalaman klinis saya menerapi klien sejak 2005. Dengan memahami faktor-faktor ini maka hipnoterapi akan memberikan hasil optimal seperti yang diharapkan.
Penjelasan berikut ini khusus ditujukan kepada calon klien dengan asumsi hipnoterapisnya cakap dan kompeten.
1. Semua hipnosis adalah self-hypnosis
Pandangan yang salah adalah bila klien berpikir bahwa ia akan dihipnosis oleh terapis. Seolah-olah hipnosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh hipnoterapis kepada klien. Yang benar, hipnosis adalah sesuatu yang dilakukan oleh klien kepada dirinya sendiri dengan mengikuti anjuran, saran, sugesti, atau bimbingan terapis.
2. Hipnoterapis hanya sebagai navigator sedangkan klien adalah pengemudi
Saat melakukan terapi peran hipnoterapis hanya sebagai navigator yang mengarahkan dan membimbing pikiran bawah sadar klien untuk melakukan hal tertentu. Bila klien tidak bersedia melakukan yang disarankan hipnoterapis maka terapi tidak bisa berjalan dengan baik. Dengan demikian dibutuhkan kerjasama antara hipnoterapis dan klien. Klien berperan sebagai co-therapist.
3. Klien tetap sadar walau telah masuk kondisi trance yang dalam
Banyak yang berpikir bia seseorang masuk kondisi hipnosis maka ia akan lupa ingatan atau menjadi tidak sadar, tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya dan begitu bangun sudah sembuh. Ini pandangan yang salah. Yang benar, saat dalam kondisi trance, sedalam apapun trance-nya, klien tetap sadar dan memegang kendali penuh atas pikirannya.
Namun ada juga klien yang bersikeras dengan pandangannya yaitu orang dihipnosis akan tidak sadar. Bila terapis sudah menjelaskan dengan gamblang apa itu kondisi hipnosis dan klien tetap bersikukuh dengan pandangan atau pemahamannya maka terapi tidak bisa dilanjutkan.
4. Kesembuhan klien sepenuhnya adalah tanggung jawab klien, bukan tanggung jawab terapis.
Klien perlu menyadari bahwa tanggung jawab kesembuhan ada pada diri klien, bukan pada terapis. Peran terapis hanya membantu atau memfasilitasi proses terapi dengan menggunakan sumber daya yang ada dalam diri klien untuk kesembuhan klien.
Ada klien, pada level pikiran bawah sadar, bersikeras tidak ingin sembuh dari masalahnya karena ternyata ia mendapat keuntungan dari masalah yang dialaminya. Terapis sudah tentu dapat melakukan edukasi ulang pikiran bawah sadar klien. Namun bila klien bersikeras tidak atau belum bersedia sembuh maka terapis harus menghargai keputusan ini.
5. Klien datang atas keinginan atau kesadarannya sendiri.
Untuk mengatasi suatu masalah dibutuhkan motivasi yang tinggi dari klien. Semakin tinggi motivasinya maka akan semakin mudah klien sembuh. Klien yang datang ke terapis dengan motivasi yang tinggi sebenarnya sudah sembuh. Tugas terapis tinggal melakukan sentuhan akhir saja.
Namun yang seringkali terjadi klien datang bukan atas kemauan atau kesadarannya sendiri namun karena rayuan, bujukan, desakan, paksaan, dan atau ancaman orang lain. Bila ini yang terjadi dapat dipastikan klien tidak akan sembuh.
6. Klien mengijinkan dirinya untuk diterapi.
Ada klien yang karena alasan tertentu tidak mengijinkan dirinya untuk diterapi. Alasannya bisa takut, merasa tidak nyaman, tidak percaya sama terapis, pandangan atau pemahaman yang kurang tepat mengenai hipnoterapi, atau klien menemui terapis bukan atas kesadaran dan keinginannya sendiri.
Agar hasil terapi bisa maksimal maka harus ada niat sungguh-sungguh dari klien untuk berubah atau keluar dari masalah.
7. Klien terbuka dan jujur
Keterbukaan dan kejujuran dalam berkomunikasi dan mengungkap berbagai data yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah adalah hal yang sangat penting. Klien, dalam kondisi hipnosis, tetap sadar dan dapat mengendalikan pikirannya sepenuhnya. Ia dapat berbohong atau tidak mengungkap data penting yang dibutuhkan.
8. Klien percaya pada terapis
Bila klien, karena alasan tertentu, merasa kurang yakin atau percaya pada terapis maka sebaiknya jangan melakukan terapi. Ketidakpercayaan atau perasaan ragu terhadap terapis sangat menghambat proses terapi. Klien berhak memutuskan tidak melanjutkan terapi.
9. Klien pasrah dan ikhlas menjalani bimbingan terapis
Kepasrahan dan keikhlasan adalah hal mutlak. Klien bersikap pasif, reseptif, dan mengijinkan terapi berjalan tanpa ia perlu melakukan upaya secara sadar. Hipnoterapi bukan cognitive therapy. Hipnoterapi adalah terapi yang dilakukan dalam kondisi atau dengan bantuan kondisi hipnosis.
Untuk bisa masuk ke pikiran bawah sadar yang dibutuhkan adalah niat, kepasrahan, dan keikhlasan. Semakin pasrah semakin baik. Bila klien berusaha atau berupaya untuk bisa tance maka semakin ia berusaha akan semakin tidak bisa. Trance adalah sesuatu yang terjadi secara alamiah dan tidak membutuhkan upaya sadar.
10. Klien jelas aspek apa yang ingin diatasi dengan hipnoterapi.
Ada klien yang datang ke terapis namun tidak jelas apa yang ingin diterapi. Ketidakjelasan ini membuat pikiran bawah sadar bingung dan tidak bisa fokus membantu klien dalam proses terapi.
11. Dalam satu sesi hipnoterapi hanya satu aspek saja yang dibereskan.
Ada klien, mungkin karena ingin hemat biaya, meminta terapis membereskan beberapa masalah dalam satu sesi terapi. Untuk terapi yang efektif dibutuhkan pikiran yang fokus serta target dan prioritas yang jelas. Untuk itu klien perlu menetapkan dengan hati-hati dan jelas apa masalah paling utama dan penting untuk dibereskan di sesi hipoterapi. Dan yang juga perlu diingat yaitu satu sesi hipnoterapi berlangsung sekitar 2 jam.
Biasanya bila waktunya masih cukup maka terapis bisa membantu klien mengatasi masalah lain. Jadi, dalam satu sesi sebaiknya fokus pada satu masalah saja.
12. Hipnoterapi adalah kontrak upaya bukan kontrak hasil
Terapis tidak boleh memberikan jaminan atau garansi kesembuhan. Hal ini juga berlaku bagi healing profession lain seperti psikiater, dokter, psikolog, dan konselor. Dengan demikian bila ada klien yang meminta jaminan atau garansi kesembuhan maka klien seperti ini tidak bisa dilayani.
13. Hipnoterapi bukan pil ajaib / Klien tidak over-ekspektasi
Walau hipnoterapi terbukti secara klinis dan empiris sangat efektif untuk mengatasi berbagai masalah yang berhubungan dengan mental dan atau emosi, namun sama halnya teknik terapi lainnya hipnoterapi juga punya keterbatasan. Proses terapi membutuhkan waktu.
14. Komit menjalani hingga 4 sesi konsultasi dan atau terapi
Klien perlu komit untuk menjalani terapi antara satu hingga empat sesi. Komitmen awal adalah untuk 2 sesi. Satu sesi berlangsung selama 2 (dua) jam. Bila masih dibutuhkan terapi bisa dilanjutkan hingga 4 sesi.
Pada sesi pertama, bila terapis menilai klien siap, maka bisa langsung dilakukan terapi. Namun bila terapis menilai klien belum siap maka hanya akan dilakukan konsultasi atau konseling.
Komitmen ini sangat penting mengingat dalam proses terapi terapis dan juga klien tidak dapat memprediksi data apa yang akan diungkap oleh pikiran bawah sadar klien. Seringkali terjadi masalah yang tampaknya sepele dan mudah diatasi ternyata adalah simtom dari satu akar masalah yang sangat serius yang membutuhkan beberapa sesi terapi agar tuntas.
Apa akibatnya bila terapi hanya dilakukan satu sesi padahal belum tuntas?
Yang terjadi adalah klien bisa menjadi semakin labil dan justru akan semakin bermasalah. Ibaratnya seorang dokter bedah yang telah membuka perut pasien namun tidak menutup rapat bekas bukaan operasi ini. Akibatnya bisa sangat fatal.
15. Klien datang ke terapis untuk terapi, bukan untuk melawan, menguji, atau ingin mengalahkan terapis
Ada klien yang melakukan therapy shopping. Ia bangga telah diterapi banyak terapis namun tidak sembuh. Pola pikir klien tipe ini adalah ia ke terapis bukan untuk mencari bantuan menyembuhkan masalahnya namun ia ingin menguji atau mengalahkan terapisnya.
Ada juga klien yang bangga bila terapisnya gagal menghipnosis dirinya. Ia merasa lebih unggul atau kuat dibanding terapisnya.
16. Klien tidak menganalisa
Ada klien yang ingin diterapi dan sekaligus ingin “belajar” teknik yang digunakan terapis. Akibatnya, ia tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis dan terapinya tidak berhasil.
Klien tipe ini rugi dua kali. Pertama, ia sudah bayar mahal untuk menjalani terapi namun tidak ada hasilnya. Kedua, ia tidak dapat mengerti apa yang dilakukan hipnoterapis karena klien tidak belajar teori dan teknik yang digunakan hipnoterapis.
Keingintahuan klien membuat pikiran sadarnya tetap aktif karena melakukan analisa. Hal ini menghambat proses induksi sehingga ia tidak bisa berpindah dari kesadaran normal ke kondisi trance.
17. Klien mampu berkomunikasi secara verbal
Komunikasi verbal sangat penting dalam hipnoterapi. Setelah proses induksi biasanya klien akan menutup mata sampai terapis selesai dilakukan. Terapis berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar klien secara verbal.
Untuk itu klien harus bisa memahami bahasa yang digunakan terapis. Bila misalnya terapis menggunakan bahasa Indonesia dan klien kurang cakap berbahasa Indonesia maka terapi tidak bisa dilakukan dengan efektif.
Hambatan lain adalah bila, misalnya, klien mengalami masalah pendengaran yang mengakibatkan komunikasi antara klien dan terapis menjadi tersendat.
Hambatan komunikasi juga bisa terjadi karena berkurangnya kemampuan berpikir (kognisi) akibat usia lanjut atau klien mengalami dementia.
18. Klien tidak di bawah pengaruh obat penenang
Klien yang sedang di bawah pengaruh obat penenang biasanya akan sulit diinduksi. Namun dengan teknik induksi khusus klien tipe ini tetap dapat masuk kondisi trance. Hambatan lain akibat pengaruh obat penenang yaitu perasaan klien menjadi tumpul. Klien tidak dapat merasakan emosinya padahal emosi inilah yang akan diproses dalam terapi.
19. Masalah klien murni karena faktor mental atau emosi, bukan karena gangguan pada fungsi otak.
Dalam beberapa kasus, ada terjadi klien mengalami masalah karena adanya gangguan pada fungsi otak, misalnya karena stroke, terbentur, jatuh, atau karena mengkonsumsi narkoba. Bila ini penyebab masalah klien maka hipnoterapi tidak bisa membantu. Klien perlu penanganan medis, bukan hipnoterapis.
"Sementara kita mencoba mengajar anak-anak kita semua hal tentang kehidupan,
anak-anak kita mengajar kita apakah kehidupan itu sebenarnya."
Dalam beberapa minggu terakhir ini saya banyak mendapat klien anak-anak hingga remaja. Umumnya masalah mereka berkisar pada masalah perilaku, kebiasaan, interaksi sosial, dan prestasi akademik/sekolah. Ada yang tidak mau mendengar orangtuanya, ada yang mogok sekolah, ada yang tidak mau bicara dengan orangtuanya, motivasi belajar rendah dan ketagihan main game, suka ribut dengan teman, dan bahkan ada yang mau minggat dari rumah. Orangtua yang kebingungan menghubungi saya dan minta tolong untuk bisa menerapi anak mereka.
Umumnya saya tidak akan langsung menerapi si anak. Saya biasanya akan minta orangtua, baik ayah maupun ibu, untuk bertemu saya di sesi awal melakukan konseling. Nah, masalah biasanya muncul di sini. Orangtua pada umumnya keberatan dengan dua alasan utama yaitu mereka tidak bisa bertemu saya, apalagi konseling, karena mereka sibuk dan ini kan masalah anak, lalu mengapa orangtua yang ikut konsultasi segala.
Orangtua yang tidak bersedia bertemu dan konseling dengan saya pasti akan saya tolak. Saya tidak akan melakukan terapi pada anak mereka.
Mengapa saya bersikeras bertemu kedua orangtua terlebih dahulu sebelum menerapi anak mereka?
Pengalaman klinis saya menunjukkan bahwa masalah utama anak umumnya bersumber dari orangtua dan atau lingkungan (keluarga). Bisa juga masalah berawal dari sekolah. Namun, mayoritas masalah anak bersumber dari orangtua.
Bila anak diibaratkan produk maka kualitas produk yang dihasilkan ditentukan oleh kualitas bahan baku dan mesin/proses produksi. Produk yang cacat atau kurang baik, bila bahan bakunya bagus, maka yang harus dicek adalah mesin dan proses produksinya. Dalam hal ini mesin adalah orangtua dan proses produksi adalah pendidikan keluarga yang dialami anak melalui interaksinya dengan dan di dalam lingkungan keluarga yang sangat menentukan kualitas tumbuhkembangnya.
Family Therapy adalah terapi yang melibatkan keluarga sebagai suatu sistem interaksi sosial dengan tujuan untuk mengatasi masalah tertentu dan atau untuk meningkatkan kualitas atau kondisi kehidupan anggota keluarga ke arah yang lebih baik. Terapi dilakukan baik dengan menggunakan konseling maupun teknik yang lebih spesifik.
Bila dalam keluarga ada beberapa anak maka biasanya yang bermasalah hanya satu anak saja. Anak yang bermasalah ini adalah manifestasi dari sistem keluarga yang bermasalah. Jika upaya terapi hanya dilakukan pada anak maka ia bisa sembuh dan setelah itu akan kambuh lagi. Diterapi lagi, sembuh….dan setelah itu kambuh lagi. Bisa juga setelah anak ini sembuh maka yang bermasalah adalah saudaranya. Demikian seterusnya. Sekali lagi, masalah anak sebenarnya mencerminkan masalah pada sistem keluarga.
Dalam melakukan Family Therapy dibutuhkan komitmen penuh dari kedua orangtua. Bila hanya salah satu saja yang komit menjalani sesi terapi maka hasilnya tidak maksimal.
Keberhasilan Family Therapy juga sangat ditentukan oleh integritas, kredibilitas, dan level otoritas terapis di mata kedua orangtua. Bila terapis tidak mampu membangun postur dengan baik, tidak mampu menunjukkan kredibilitas, dan terutama otoritasnya sebagai terapis yang kompeten dan berpengalaman di mata orangtua klien maka apa yang ia sarankan tidak akan dilakukan oleh orangtua. Hal ini akan sangat menghambat proses terapi.
Biasanya terapis yang usianya masih muda, misalnya 20an atau 30an akan sulit “menghadapi” para orangtua yang usianya jauh di atasnya. Apalagi bila orangtua ini adalah tipe yang keras kepala, merasa lebih pintar atau lebih berpengalaman dari terapis, atau mungkin juga orang sukses atau dengan posisi jabatan yang tinggi dalam suatu organisasi. Namun tidak semua orangtua seperti ini. Ada orangtua yang sadar bahwa mereka membutuhkan bantuan dari orang lain dan dengan rendah hati dan sungguh-sungguh bersedia mendengar saran dan masukan dari terapis yang usianya lebih muda dari mereka.
Dalam Family Therapy bila dibutuhkan orangtua juga akan diterapi. Hal ini dilakukan karena sebenarnya pola asuh orangtua, yang mengakibatkan timbulnya masalah dalam diri anak, berasal dari pengalaman hidup mereka saat mereka masih kecil. Biasanya trauma orangtua inilah yang menjadi akar masalah dalam keluarga. Misalnya orangtua yang overprotective, overpemissive, overdemanding, pencemas, suka berkata kasar, pemarah / gampang “meledak”, bersikap kasar pada anak, terlalu disiplin, suka memukul, suka mengancam, menggunakan pendekatan punishment and reward dalam mendidik anak, memberlakukan cinta bersyarat, dan masih banyak lagi perilaku lain yang tidak kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Faktor lain lagi adalah ketidakharmonisan relasi orangtua yang berimbas pada anak. Jadi, untuk bisa membangun keluarga yang harmonis dan bahagia kedua orangtua harus mempunyai nilai dan tujuan hidup yang sejalan.
Biasanya setelah “masalah” pada orangtua berhasil diatasi melalui sesi terapi maka perubahan akan langsung tampak dalam keluarga itu dan secara luar biasa anakpun ikut berubah menjadi lebih baik.
Menyembuhkan luka batin dalam diri anak sebenarnya sangat mudah. Bila anak bersedia diterapi dan orangtua memberikan dukungan penuh, dengan melakukan introspeksi diri dan juga bersedia secara sadar berubah, maka semuanya menjadi mudah dan lancar.
Masalah muncul bila orangtua yang arogan, keras kepala, dan bersikeras mengatakan bahwa masalah anak adalah masalah anak. Bukan masalah mereka. Jadi, menurut orangtua, anaklah yang harus dibereskan.
Saya banyak bertemu dengan orangtua seperti ini. Orangtua ini adalah orangtua yang tidak dewasa dan tidak siap menjadi orangtua. Mereka hanya siap secara biologis menjadi papa/mama atau ayah/ibu namun mereka tidak siap secara mental, emosi, psikologis,dan terutama spiritual untuk menjadi orangtua.
Orangtua tipe ini cenderung menyalahkan orang lain atau lingkungan. Di salah satu buku saya pernah membaca ada orangtua yang anaknya bermasalah, beberapa tahun lalu pernah meminta bantuan seorang psikolog untuk melakukan diagnosa pada anak mereka, dan setelah itu mendapat saran apa yang sebaiknya dilakukan untuk membantu anak mereka.
Namun sayangnya orangtua ini tidak melakukan saran dan masukan dari psikolog ini. Dan hebatnya lagi, empat tahun kemudian, saat putra mereka semakin bermasalah, mereka langsung menyalahkan psikolog ini dengan berkata, “Ini yang salah adalah psikolognya. Masa dulu sudah diterapi kok nggak ada perubahan. Kalaupun ada perubahan, perubahannya tidak permanen. Masa anak saya kembali ke pola perilaku yang lama. Dan sekarang bahkan tambah parah lagi. Saya mau minta pertanggungjawaban psikolog ini.”
Membaca kisah ini saya sangat prihatin dan kasihan pada orangtua ini. Apa saja bisa terjadi selama kurun waktu empat tahun. Rupanya orangtua ini adalah orangtua tipe laundry atau binatu. Mereka memperlakukan anak seperti baju yang kotor dan berharap dengan membawa anak ke psikolog atau terapis maka masalah anak mereka setelah itu langsung dapat diatasi. Dan setelah itu akan anak akan berperilaku baik selamanya.
Orangtua ini sama sekali tidak berani mengambil tanggung jawab atas pendidikan keluarganya. Ia berpikir bahwa tanggung jawab membereskan masalah anak ada pada terapis atau psikolog. Yang benar adalah terapis atau psikolog adalah partner atau rekan dalam membantu memulihkan kondisi anak. Orangtualah yang harus berperan aktif.
Saya pernah menangani kasus anak usia 12 tahun dengan kecemasan yang sangat tinggi. Anak ini, saking cemasnya, menjadi sulit konsentrasi, bicaranya tidak bisa urut, melompat ke sana ke mari, pelajarannya jeblok. Tidak sulit membantu anak ini untuk pulih. Hanya dalam waktu sangat singkat anak ini kembali normal dan ceria seperti anak pada umumnya.
Mengapa perubahan ini bisa begitu mudah terjadi? Karena kedua orangtua anak ini, baik ayah maupun ibunya, sangat peduli dan bersedia menjalankan saran, masukan, dan hal-hal penting lain yang disampaikan terapis. Mereka mengakui bahwa selama ini mereka kurang perhatian pada anak karena sama-sama sibuk bekerja. Begitu kedua orangtuanya berubah maka anaknya juga berubah.
Masalah dalam keluarga, terutama pada anak, biasanya timbul karena orangtua mengadopsi pola pikir, pola asuh, nilai-nilai hidup, yang sudah tidak sejalan dan kondusif dengan perkembangan zaman. Orangtua menggunakan apa yang dilakukan orangtua mereka sebagai bahan untuk mendidik anak-anak mereka.
Family Therapy tidak berarti hanya dilakukan di ruang terapi. Family Therapy juga mengandung makna bahwa kedua orangtua perlu duduk bersama menata ulang kehidupan keluarga. Hal ini dilakukan dengan menentukan kembali, secara sadar dan sukarela, tujuan berumah tangga, goal keluarga, goal untuk orangtua, goal untuk anak-anak, meneguhkan kembali komitmen pernikahan, menetapkan strategi yang jelas, terukur, dan rinci untuk mencapai goal yang telah ditetapkan, dan yang sangat penting juga adalah kesediaan dan semangat kedua orangtua untuk belajar dan mengembangkan diri. Dalam hal ini kedua orangtua perlu meningkatkan ritual dan spiritual mereka, berdamai dengan diri sendiri, menjaga kualitas berpikir, mencapai hati yang tenang dan damai, serta membaca buku-buku pengembangan diri, parenting, menghadiri seminar atau workshop yang tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas diri mereka.
Jadi, bagaimana Family Therapy dilakukan?
Sesi awal kedua orangtua akan menjalani diskusi dan konseling dengan terapis. Di sini terapis akan melakukan interview untuk mencari tahu apa masalah yang ada dalam keluarga, apakah ini masalah pada ayah, ibu, atau anak. Selanjutnya dilakukan pemetaan masalah. Dari sini akan tampak sebenarnya akar masalahnya apa.
Jika ternyata masalah utama ada pada orangtua maka orangtualah yang perlu diberi saran, masukan, dan arahan apa yang perlu dilakukan untuk memperbaiki kondisi ini. Jika dengan cara “biasa” sulit dilakukan barulah terapis akan melakukan terapi.
Setelah itu orangtua diminta melakukan apa yang telah disepakati bersama dan selama satu minggu melihat perubahan yang terjadi di keluarga. Bila ternyata perubahannya positif, ya diteruskan. Kalau masih belum maksimal maka bisa dilakukan terapi lanjutan.
Bila ternyata masalahnya adalah pada diri anak, mungkin luka batin atau trauma, maka terapi akan dilakukan pada anak dan orangtua memberikan dukungan di rumah. Bila masalah berhubungan dengan sekolah maka terapi dilakukan untuk mengatasi masalah ini dan memberikan solusi yang perlu dijalani.
Misalnya kalau anak sulit belajar maka perlu dicari apa akar masalahnya. Apakah anak takut dengan gurunya, ada trauma, mungkin anak bosan, mungkin pengetahuan dasar anak yang kurang, mungkin sekolahnya terlalu keras, mungkin anak mengalami bullying di sekolah, mungkin karena tangki cinta anak kosong, dan masih banyak kemungkinan lain. Setiap masalah ini tentunya membutuhkan penyelesaian yang berbeda.
Satu hal yang sangat penting untuk disadari oleh Family Therapist yaitu bekal pengetahuan dan keterampilan konseling dan atau hipnoterapi saja tidak cukup. Seorang Family Therapist akan bermain banyak peran. Saat memberikan konseling, ia menjadi konselor. Saat melakukan hipnoterapi maka ia adalah hipnoterapis. Setelah selesai terapi dan memberikan saran, masukan, arahan kepada kliennya, baik itu orangtua atau anak, ia menjadi mentor atau life coach. Dibutuhkan kesadaran, wawasan, pengalaman, netralitas, objektivitas, integritas, dan terutama hati dan kebijaksanaan untuk bisa membantu suatu keluarga untuk bertumbuh dan berkembang optimal.
Banyak pemahaman masyarakat tentang hipnosis / hipnoterapi kurang tepat atau salah akibat “edukasi” yang dilakukan oleh televisi, khususnya yang dilakukan oleh “hipnotis” yang hanya dengan membakar tisu langsung bisa membuat subjeknya “tidak sadarkan” diri. Setelah itu si “hipnotis” bisa melakukan apa saja pada si subjek, termasuk bertanya hal-hal yang sifatnya pribadi dan rahasia, dan subjek seolah tak kuasa menolak untuk mengungkapkan segala hal yang ingin diketahui oleh “hipnotis”.
Sewaktu kasus Bank Century ramai dibicarakan, beberapa anggota DPR RI sempat punya ide brilian. Rupanya mereka merasa kasihan dengan beratnya tugas KPK dan gemas dengan alotnya upaya untuk membongkar kasus ini hingga tuntas. Anggota DPR ini berinisiatif untuk meminta bantuan seorang hipnotis yang biasa muncul di televisi. Mereka berpikir, akibat edukasi dari televisi, mudah saja membongkar kasus ini. Cukup bawa tersangka atau tercuriga ke tempat si hipnotis dan setelah itu skenario akan berjalan persis seperti yang ditampilkan di televisi. Si hipnotis menghipnosis si tersangka, lalu bertanya, apa saja, dan tersangka akan menjawab dengan patuh, jujur, apa adanya. Dengan demikian akan terungkap secara terang benderang semua hal mengenai Bank Century. Mudah, kan?
Saat dihubungi oleh anggota DPR si hipnotis dengan terus terang menjelaskan bahwa ia tidak bisa melakukan seperti yang diminta. “Lho, mengapa tidak bisa? Buktinya di tv ada yang bisa melakukannya. Dan anda jauh lebih jago dan terkenal dari yang di tv itu” kejar anggota Dewan.
“Ya, yang di tv itu kan cuma untuk hiburan. Jadi, itu nggak benar. Semuanya sudah diskenario sehingga menjadi tontonan yang menghibur ” jelas si hipnotis.
Pembaca, benar kata si hipnotis di atas. Yang ditampilkan di tv itu hanya untuk hiburan semata. Lalu, bagaimana dengan orang yang dihipnosis, seperti yang juga ditunjukkan di tv, yang melakukan hal-hal yang tidak wajar? Misalnya, menyanyi dan menari seperti seorang rocker, padahal subjek sesungguhnya adalah orang yang pemalu. Lalu, bagaimana dengan yang “menelpon” pacar dengan menggunakan sepatu? Bukankah mereka ini dikuasai oleh si hipnotis sehingga bersedia dengan suka rela melakukan apapun yang diminta oleh si hipnotis?
Kalau dilihat sepintas memang seperti itu. Namun bila diselidiki lebih dalam ternyata tidak. Mereka yang tampil itu memang sudah disiapkan dengan hati-hati oleh si hipnotis. Ada prosedur yang harus dilalui oleh subjek sebelum ia tampil dengan “brilian” di atas panggung. Dan ingat, ini adalah stage hypnosis atau hipnosis untuk pertunjukkan dan sangat berbeda dengan hipnoterapi.
Tentu akan sangat berbeda responnya bila subjek yang di atas panggung itu diminta melakukan satu tindakan dengan bobot signifikansi psikologis yang tinggi. Misalnya ia diminta memukul atau melukai orang yang ia sayangi. Kira-kira apakah ia akan melakukan hal ini? Sudah tentu tidak. Secara spontan akan muncul resistensi yang hebat yang mencegah subjek melakukan hal ini. Resistensi ini dikenal dengan nama pertahanan psikologis atau psychological defense(s).
Di sini tampak jelas bahwa pertahanan diri seseorang yang dihipnosis atau masuk dalam kondisi hipnosis tetap aktif atau bekerja. Demikian pula halnya dalam konteks hipnoterapi.
Dalam hipnoterapi apa yang membuat sistem pertahanan psikologis dalam diri seseorang menjadi aktif? Apa akibatnya bila pertahanan psikologis aktif selama proses terapi? Apakah ini hal yang baik ataukah buruk? Bagaimana mengatasi hal ini?
Pembaca, bila anda adalah seorang hipnoterapis yang melakukan terapi menggunakan hipnoanalisis maka saya yakin anda pasti pernah mengalami salah satu atau beberapa dari hal berikut ini saat sedang menerapi klien anda:
- klien tidak bisa masuk ke kondisi hipnosis. Kalaupun bisa, hanya sampai di light trance.
- klien bisa masuk sebentar namun segera keluar dari kondisi hipnosis.
- klien bisa masuk sangat dalam namun saat terapis hendak memproses masalahnya tiba-tiba klien buka mata dan keluar dari kondisi hipnosis.
- klien “tidur” sehingga tidak bisa memberikan respon. Terapis perlu tahu bahwa klien sebenarnya tidak tidur. Yang terjadi adalah ia tidak bersedia menjawab hal yang berhubungan dengan inti masalah. Kalau ditanya hal lain ia pasti bisa menjawab.
- klien hanya diam, tidak bersedia bicara saat ditanya.
- klien lebih banyak menjawab tidak tahu.
- klien tidak hanya diam namun juga tidak bersedia menjawab pertanyaan dengan ideomotor response.
- klien masuk sangat dalam sehingga tubuh klien benar-benar rileks dan tidak bisa memberi respon. Klien berusaha menjawab dengan menggerakkan bibirnya namun tidak ada suara atau kata yang keluar. Ia masuk ke level catatonia.
- klien bisa bicara tapi hanya bicara hal yang tidak relevan dengan masalahnya.
- klien larut dalam imajinasi atau fantasinya yang tidak ada hubungan dengan masalah yang hendak diatasi.
- pikiran klien tidak fokus pada masalahnya namun melompat ke sana ke mari.
- di awal klien lancar menjawab berbagai pertanyaan terapis. Saat masuk ke inti masalahnya, klien diam atau tidak bisa bicara.
Contoh di atas adalah wujud pertahanan psikologis yang kami, para hipnoterapis AWG Institute/QHI temukan di ruang praktik. Hanya satu alasan mengapa pertahanan psikologis atau resistensi dalam konteks hipnoterapi muncul. Klien merasa takut.
Ada dua jenis takut pada diri klien yang berhubungan dengan hipnoterapi. Pertama, rasa takut atau penolakan yang membuat klien sulit atau tidak bisa masuk ke kondisi rileksasi pikiran yang dalam (kondisi hipnosis). Biasanya rasa takut atau penolakan ini disebabkan oleh persepsi yang salah mengenai hipnoterapi dan alasan lain seperti:
- hipnoterapi menggunakan kuasa kegelapan, mantra, atau makhluk halus.
- terapis menguasai pikiran klien.
- terapis bisa melakukan apa saja pada klien dan klien akan patuh sepenuhnya.
- hipnoterapi sama dengan cuci otak atau brain-washing.
- klien akan tidak sadarkan diri atau pingsan.
- klien, karena alasan tertentu, tidak percaya pada terapis.
- klien takut “diubah” oleh terapisnya karena ia datang bukan atas kesadaran atau keinginannya sendiri namun atas dorongan, bujukan, rayuan, atau bahkan paksaan dan ancaaman orang lain yang ingin ia berubah.
- klien mendapat keuntungan atau manfaat dari masalahnya. Kondisi ini dinamakan secondary gain.
Takut kedua muncul saat klien sudah masuk ke kondisi hipnosis. Takut ini berhubungan dengan proses penggalian informasi di pikiran bawah sadar. Dalam hal ini klien takut atau merasa tidak nyaman bila harus mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi atau rahasia. Klien takut mendapat malu karena merasa apa yang akan diungkap adalah aib bagi dirinya dan mungkin juga bagi keluarganya.
Selain rasa malu, resistensi juga bisa timbul karena akar masalah adalah pengalaman yang sangat traumatik sehingga klien sama sekali tidak ingin mengingat apalagi membicarakannya dengan terapis atau dalam kasus tertentu klien bisa mengalami amnesia sehingga benar-benar lupa atau tidak tahu.
Rasa takut dan atau malu membuat pikiran bawah sadar “lumpuh” sehingga tidak bisa mengungkapkan data yang dibutuhkan untuk menyelesaikan kasus terapi. Ini yang biasanya dialami saat terapis melakukan teknik uncovering seperti regresi yang dilanjutkan dengan revivifikasi dan atau Ego Personality Therapy. Biasanya, apapun yang ditanya oleh terapis, klien, lebih tepatnya pikiran bawah sadar klien, akan menjawab tidak tahu atau hanya diam saja.
Bagaimana sebaiknya hipnoterapis menyikapi resistensi?
Setiap perilaku klien punya makna yang spesifik. Makna paling umum yaitu resistensi adalah satu bentuk komunikasi atau pertahanan psikologis. Bila kita mengenali perilaku klien sebagai bentuk pertahanan diri maka kita dapat melakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi hal ini. Jadi, apapun perilaku klien dapat kita manfaatkan demi kebaikan dirinya.
Apa yang perlu dilakukan hipnoterapis agar tidak sampai muncul resitensi dalam diri klien?
Hipnoterapis perlu memahami bahwa proses terapi sudah dimulai sejak pertama kali klien tahu tentang hipnoterapis, bukan di ruang terapi. Perkenalan calon klien dengan terapis bisa melalui buku yang ia baca, cerita yang ia dengar dari kawannya, informasi dari internet, talkshow, bedah buku, siaran radio, televisi, seminar, atau dari sumber lainnya. Intinya, inilah saat pertama kali calon klien tahu tentang terapis.
Selanjutnya, saat calon klien memutuskan untuk diterapi maka ia akan menghubungi hipnoterapis. Barulah setelah itu terapi “resmi” dilakukan di ruang praktik. Penilaian atau kesan terhadap hipnoterapis sangat menentukan respon pikiran bawah sadar klien terhadap proses terapi yang dilakukan.
Hal penting yang sangat perlu diperhatikan terapis adalah membangun relasi (rapport) tidak hanya dengan pikiran sadar namun juga dengan pikiran bawah sadar (hypnotic rapport). Klien perlu mendapat edukasi yang mendalam dan menyeluruh mengenai proses hipnosis/hipnoterapi, apa yang akan dilakukan, apa yang diharapkan akan terjadi. Terapis juga perlu menjawab pertanyaan atau keraguan klien sehingga klien merasa benar-benar yakin, mantap, dan pasrah sepenuhnya mengikuti bimbingan terapis.
Hal lain yang juga sangat penting adalah keragaman teknik yang dikuasai terapis. Ada teknik yang diaplikasikan dengan memperlakukan pikiran bawah sadar sebagai satu kesatuan dan ada juga yang menggunakan pendekatan komponen.
Ada teknik yang bersifat asosiasi dan ada juga yang disosiasi. Pemanfaatan varian teknik sangat bergantung kebutuhan, situasi, dan kondisi klien. Kalau semua sudah dicoba tidak bisa maka perlu digunakan teknik khusus untuk menembus blocking yang dibuat pikiran bawah sadar.
Saya pernah menerapi klien yang mengalami gejala depresi, ia datang atas dorongan orangtuanya. Saat sebelum terapi saya melakukan wawancara mendalam. Klien terkesan sangat ingin saya bantu namun pikiran bawah sadarnya memblok informasi yang saya butuhkan sehingga terapi tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan.
Setelah mencoba berbagai cara akhirnya informasi yang saya butuhkan bisa saya dapatkan dengan menggunakan teknik Ego Personality Therapy. Saya meminta “bocoran” informasi dari Ego Personality lain. Baru setelah mendapat data lengkap saya melanjutkan terapi dan berhasil membantu klien mengatasi masalahnya.
Jadi, kesimpulannya, sedalam apapun seseorang masuk ke kondisi hipnnosis pertahanan psikologisnya tetap aktif menjaga dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang merugikan atau membahayaan dirinya.
Hipnoterapis, dalam hal ini, berperan hanya sebagai fasilitator dan tidak bisa memaksa kehendaknya pada klien dan klien hanya akan melakukan hal yang diminta terapis sejauh permintaan ini tidak melanggar empat filter mental yang ada di pikiran bawah sadar klien yaitu filter keselamatan hidup, filter moral/agama, filter benar-salah, dan filter masuk akal atau tidak.
Seorang rekan terapis merasa bingung dengan data yang diungkapkan pikiran bawah sadar kliennya. Rekan ini, dalam upaya menemukan akar masalah klien, melakukan beberapa teknik uncovering dalam hipnoanalisis.
Menurut rekan saya ini, ia merasa data yang didapat saat melakukan uncovering tidak masuk akal, aneh, tidak urut, tidak sesuai konteks, sepertinya bohong atau hanya fantasi, dan yang lebih parah lagi seolah-olah data ini berasal dari kehidupan lampau (past life) klien.
Saat saya tanya apa yang ia lakukan saat merasa bahwa informasi yang ia dapat tidak masuk akalnya, ia menjawab, “Ya, saya hentikan terapinya. Kan tidak mungkin saya bisa melakukan terapi dengan baik bila data yang saya dapatkan ternyata tidak akurat atau tidak masuk akal.”
Hasil diskusi saya dengan rekan ini sengaja saya angkat menjadi artikel karena saya memandang hal ini sangat penting untuk diketahui. Ketidak-jelasan atau kebingungan mengenai kesahihan data yang terungkap dari pikiran bawah sadar sudah tentu akan sangat berpengaruh terhadap proses dan hasil terapi yang dilakukan.
Perlu dibedakan antara aplikasi hipnosis untuk terapi, yang kita kenal dengan hipnoterapi, dan untuk menggali data dari pikiran bawah sadar untuk tujuan investigasi atau forensik.
Hipnosis forensik digunakan untuk menggali data dari pikiran bawah sadar yang dibutuhkan untuk investigasi dan penyidikan. Data yang berhasil digali akan dibandingkan atau dicocokkan dengan data lain yang sebelumnya telah berhasil dikumpulkan. Dengan kata lain dilakukan validasi data.
Hipnoterapi bertujuan untuk membantu klien mengatasi masalah yang berhubungan dengan mental atau emosi. Biasanya klien datang ke terapis dengan membawa masalah tertentu, misalnya stress, fobia, tidak percaya diri, perasaan bersalah, dan atau penyakit psikosomatis. Ada sangat banyak hal yang dapat dibantu diringankan atau disembuhkan dengan hipnoterapi.
Hipnoterapi bisa dilakukan hanya dengan memberikan sugesti. Bila pemberian sugesti tidak membuahkan perubahan positif seperti yang diharapkan maka hipnoterapis perlu melakukan hipnoanalisis untuk mencari dan menemukan akar masalah.
Hipnosis forensik dan hipnoanalisis sama-sama melakukan pencarian atau penggalian data namun menggunakan metode, teknik, dan strategi yang berbeda, dan dengan tujuan yang berbeda.
Nah, pembaca, kembali pada judul di atas, “Dalam terapi, perlukah melakukan validasi data bawah sadar?
Jawabannya singkat dan jelas, “Tidak perlu.”
Bagaimana bila data yang terungkap dirasa tidak masuk akal?
Data ini tidak masuk akalnya terapis, namun sangat masuk akalnya klien. Bila terapis bersikeras bahwa data yang terungkap tidak bisa digunakan, karena tidak masuk akal, maka saya menyimpulkan dua hal. Pertama, terapis ini sebenarnya tidak tahu apa yang ia lakukan. Kedua, terapis ini menggunakan pendekatan therapist-centered (berpusat pada terapis), bukan client-centered (berpusat pada klien).
Therapist-centered (TC) maksudnya adalah proses terapi yang berpusat pada terapis. Satu contoh pendekatan TC adalah terapis, berdasar pemahaman dan analisisnya menentukan apa yang menjadi akar masalah klien. Sedangkan pada client-centered (CC) therapy, akar masalah diungkap oleh pikiran bawah sadar klien. Apapun yang muncul dari pikiran bawah sadar klien inilah yang diproses oleh hipnoterapis.
Saya pernah mendapat pertanyaan dari seorang calon klien, “Pak Adi, saya pernah diterapi oleh seorang hipnoterapis. Sebelum bertemu dengannya saya diminta menulis dan menceritakan masalah saya di kertas putih A4 tidak bergaris. Lalu saya diminta untuk mengirim tulisan tangan saya ini via faks ke si terapis. Saat bertemu dengan terapis saya diberitahu bahwa berdasar analisisnya terhadap cerita yang saya tulis dan juga terutama dari bentuk tulisan tangan saya, ia menyimpulkan bahwa akar masalah saya terjadi di masa kecil, usia 5 tahun, dan berhubungan dengan ibu saya. Nah, menurut pendapat Pak Adi apakah ini benar?”
Saya jelaskan bahwa saya tidak bisa dan tidak boleh memberi penilaian benar atau salah terhadap analisis terapis yang sebelumnya menangani klien ini karena tidak tahu secara persis apa yang menjadi dasar analisisnya.
Yang bisa saya sampaikan adalah bahwa bila terapis yang menentukan akar masalah, bukan pikiran bawah sadar klien, terlepas teknik yang ia gunakan, maka pendekatan ini masuk dalam therapist-centered.
Bila terapis menggunakan pendekatan client-centered maka ia bisa saja punya perkiraan mengenai akar masalah klien. Namun ia tidak boleh menyampaikan hal ini pada klien agar klien tidak terpengaruh.
Nanti, dalam proses terapi, data yang disampaikan pikiran bawah sadar klien, apapun datanya, akan dicek apakah benar akar masalah atau bukan dengan menggunakan teknik tertentu. Namun terapis tidak berkepentingan untuk memeriksa apakah data yang disampaikan ini merujuk pada satu kejadian nyata atau sekedar fantasi.
Mengapa tidak dilakukan validasi?
Karena tujuan hipnoterapi adalah untuk menyembuhkan klien, bukan untuk investigasi. Data yang diungkapkan adalah data yang oleh pikiran bawah sadar klien dianggap, dirasa, dipandang, atau yang paling pantas dan pas dinyatakan sebagai akar masalah.
Sebagai terapis kita perlu selalu ingat bahwa peran kita hanya sebagai fasilitator, bukan investigator, apalagi interogator.
Hal lain yang perlu diingat yaitu memori tidak terlalu bisa diandalkan. Banyak orang punya pandangan yang keliru mengenai memori. Umumnya mereka berpikir bahwa pikiran bawah sadar berfungsi sebagai kamera yang merekam semua pengalaman yang dialami seseorang ke dalam “hard disk” memori. Pada kenyataannya tidak seperti ini.
Memori bersifat dinamis dan rekonstruktif. Artinya, memori bisa berkurang, bertambah, dan bercampur dengan data lama atau baru, dan bahkan dapat bercampur dengan imajinasi, fantasi, atau mimpi. Semua ini bisa terjadi karena pikiran bawah sadar beroperasi dengan trance-logic, bukan conscious logic.
Pikiran bawah sadar menggunakan bahasa yang berbeda dengan pikiran. Data yang terungkap bisa berupa metafora, kiasan, atau bahasa simbolik. Informasi yang seolah-olah berasal dari kehidupan lampau (past life) seringkali sebenarnya adalah metafora atau kiasan berdasar kisah yang pernah didengar atau dibaca oleh klien. Apapun bentuk data atau informasinya, selama bisa digunakan untuk membantu klien dan punya efek terapeutik yang positif, sebaiknya dimanfaatkan atau diutilisasi demi kebaikan dan kesejahteraan klien sebesar-besarnya.
Salah satu klien saya, saat diregresi, kembali ke “kehidupan lampau” di tahun 733. Banyak informasi yang saya dapatkan dari pikiran bawah sadar klien. Namun ada satu yang tidak konsisten yaitu pikiran bawah sadar klien menyarankan si klien untuk membuka tutup gelasnya dan tetap rendah hati.
Lha, saya bingung. Di tahun 733 kan tidak ada gelas. Namun saya tidak punya kepentingan “mengoreksi” hal ini. Dari penggalian lanjutan diketahui bahwa klien ini ternyata bersikap agak tinggi hati atau arogan. Ini yang menghambat karirnya sehingga sudah beberapa kali tidak mendapat promosi.
Sebagai terapis saya memaknai cerita ini sebagai bentuk “penghindaran” oleh pikiran bawah sadar sehingga tidak menyalahkan klien. Masalah klien ini “disebabkan” oleh kejadian di kehidupan lampaunya, bukan oleh klien di kehidupan ini. Dan tutup gelas adalah metafora untuk sikap terbuka dan siap belajar serta mendengar masukan atau input dari orang lain.
Dalam dunia hipnoterapi kita mengenal dua mazhab atau aliran hipnoterapi berdasar teknik yang digunakan. Ada mazhab yang berasal dari pantai timur (east coast) dan pantai barat (west coast) Amerika.
Perbedaan mencolok dari kedua mazhab ini tampak dalam teknik yang digunakan untuk membantu klien mengatasi masalahnya. Mazhab dari pantai timur lebih menekankan terapi berbasis sugesti atau yang kita kenal dengan suggestive therapy. Sedangkan mazhab dari pantai barat lebih menekankan pada pentingnya menemukan akar atau sumber masalah yang mendasari simtom. Teknik ini kita kenal dengan hypnoanalysis. Masing-masing mazhab punya alasan dan pemikiran yang sahih mengapa mereka menggunakan teknik-teknik itu.
Artikel ini khusus membahas cara untuk lebih meningkatkan keefektifan terapi berbasis sugesti (suggestive therapy) dengan memahami kendala atau hambatan yang seringkali ditemui atau tidak disadari oleh hipnoterapis.
Berikut saya berikan contoh kasus yang pernah ditangani oleh seorang dokter yang juga hipnoterapis. Mari kita pelajari bersama. Kisahnya sebagai berikut:
Seorang klien wanita berusia 34 tahun datang ke terapis dengan keluhan kulit yang merah dan gatal. Kondisi kulitnya menjadi semakin parah, lecet dan berdarah, karena sering digaruk. Selama beberapa tahun ia pernah mengalami kondisi ini beberapa kali.
Di awal terapi, terapis membimbing klien masuk ke kondisi light hypnosis dan memberikan sugesti perasaan tenang, dan kulitnya terasa nyaman. Dua hari kemudian klien melaporkan bahwa kondisinya justru menjadi semakin parah. Terapis selanjutnya memberikan sugesti yang sama dengan tujuan memperkuat sugesti sebelumnya. Dan dua hari kemudian kondisinya justru menjadi semakin parah.
Kali ini terapis mengubah strategi dengan memberikan sugesti agar klien menghentikan gerakan lengan yang bergerak berulang kali menggaruk kulitnya yang terasa gatal. Klien menerima dan menjalankan sugesti ini. Ia berhenti menggaruk.
Namun beberapa hari kemudian ia kembali menggaruk kulitnya dan justru menjadi semakin parah. Setelah dilakukan wawancara mendalam akhirnya diketahui bahwa sakit kulit adalah strateginya untuk mendapatkan perhatian dari suaminya.
Dengan demikian sugesti yang saya berikan untuk menghentikan sakit kulitnya dipandang sebagai ancaman yang merugikan. Dan untuk itu pikiran bawah sadar klien melawan ancaman ini.
Pelajaran apa yang bisa dipetik dari cerita di atas?
Kisah ini memberikan gambaran yang jelas mengenai kekurang-cermatan dan ketidak-hati-hatian terapis. Ia terburu-buru melakukan terapi berbasis sugesti tanpa didahului dengan investigasi mendalam dan menyeluruh terhadap psikodimamika kasus, walau tampaknya kasus kulit gatal ini adalah kasus yang mudah atau sepele.
Memang, dalam banyak kejadian kendala terapi berbasis sugesti sering disebabkan oleh terapis yang kurang cermat dalam melakukan investigasi dan juga kurang menyiapkan (pikiran bawah sadar) klien.
Salah satu sugesti yang sangat terkenal yang berasal dari Dr. Emile Coue adalah “Everyday in everything, I am feeling better and better” atau “Setiap hari, dalam segala hal, perasaanku selalu membaik dan semakin membaik.”
Afirmasi ini sangat terkenal dan memang sangat luar biasa. Pasien yang berobat di klinik Dr. Coue, yang menggunakan afirmasi ini, sembuh atau kondisinya membaik lima kali lebih cepat dari pasien di rumah sakit atau klinik lainnya di seantero Eropa.
Bertahun-tahun lalu saya juga sering menggunakan kalimat sugesti ini. Biasanya saya ucapkan saat mau tidur, saat baru bangun tidur, dan saat sedang melakukan relaksasi pikiran. Namun herannya saya belum atau tidak merasakan perubahan apapun. Saya berpikir sepertinya ada yang salah dengan saya. Atau mungkin blocking saya yang terlalu kuat sehingga menolak sugesti positif ini. Saya akhirnya memutuskan untuk berhenti mengucapkan afirmasi ini.
Sekian tahun kemudian, saat mendalami hipnoterapi, saya akhirnya menemukan mengapa sugesti ini tidak efektif, setidaknya untuk saya.
Lalu, apa yang membedakan kondisi yang berhasil dicapai pasien Dr. Coue dan saya, yang menggunakan afirmasi yang sama persis? Atau mungkin juga Anda? Mengapa pasien Dr. Coue bisa begitu bagus hasilnya sedangkan saya tidak?
Cukup lama saya bingung. Setelah cukup lama mencari dari berbagai sumber dan literatur akhirnya saya menemukan jawabannya. Ternyata Dr. Coue tidak serta merta memberikan sugesti “Everyday in everything, I am feeling better and better” kepada pasiennya. Beliau melakukan prakondisi pikiran dan kesiapan pasiennya sebelum memberi sugesti atau afirmasi.
Setiap pasien yang diberi sugesti diminta untuk berkunjung ke klinik tempat praktiknya dan bertemu dengan beberapa pasien yang sudah sembuh. Dr. Coue dengan cerdik mengatur sehingga dalam pertemuan ini terjadi diskusi antara pasien baru, yang masih sakit, dan pasien lama yang sudah sembuh.
Dari diskusi ini pasien baru terpengaruh dan percaya bahwa ia juga bisa sembuh. Barulah setelah ini, dan hanya setelah pasien baru ini sudah percaya bahwa ia juga bisa sembuh, Dr. Coue memberikan sugesti “Everyday in everything, I am feeling better and better” dan meminta si pasien barunya mengulang membaca sugesti ini beberapa kai dalam satu hari.
Hasilnya? Sudah tentu kondisi pasiennya semakin hari semakin baik seperti yang diharapkan.
Dalam melakukan terapi berbasis sugesti, terapis perlu memantau atau mendapat laporan mengenai perkembangan klien pascaterapi. Biasanya laporan ini disampaikan dalam waktu maksimal satu minggu. Setiap perubahan, baik positif maupun negatif, atau sama sekali tidak ada perubahan, digunakan sebagai landasan pijak untuk menyusun sugesti berikutnya.
Perubahan positif yang terjadi mengikuti salah satu dari empat pola berikut:
1. Klien mengalami perubahan signifikan langsung setelah selesai terapi.
2. Klien mengalami perubahan yang bersifat gradual atau inkremental setelah sesi terapi.
3. Klien mengalami perubahan yang bersifat gradual atau inkremental dan setelah beberapa saat terjadi perubahan yang signifikan.
4. Klien tidak mengalami perubahan. Namun setelah beberapa saat klien mengalami perubahan mengikuti salah satu dari tiga pola di atas.
Bagaimana bila klien sama sekali tidak mengalami perubahan?
Berarti ada resistensi dari pikiran bawah sadar. Resistensi ini bisa terjadi dengan dua kondisi. Pertama, resistensi tanpa diikuti perasaan tidak nyaman baik di tubuh fisik dan atau emosi. Dan kedua, resistensi yang diikuti dengan munculnya perasaan tidak nyaman baik secara emosi dan atau secara fisik.
Bila terjadi resistensi tanpa diikuti perasaan tidak nyaman maka dapat dilakukan dua hal. Pertama, klien melanjutkan sugesti yang telah diberikan. Kedua, terapis mengubah semantik yang digunakan dalam sugesti, namun tetap dengan tujuan yang sama. Klien belum berubah karena sugesti positif yang diberikan belum mencapai momentum untuk mulai mewujudkan perubahan dalam diri klien.
Untuk resistensi yang diikuti dengan munculnya perasaan tidak nyaman baik secara emosi dan atau secara fisik maka terapis harus bijaksana dan tanggap dengan tidak meneruskan sugestinya. Dalam hal ini terapis perlu segera menggunakan sinyal rasa tidak nyaman ini sebagai jembatan untuk masuk ke dalam pikiran bawah sadar klien, menemukan sumber resistensi dan mengatasi resistensi ini. Barulah setelah ini sugesti yang diberikan bisa bekerja dengan baik.
Rasa tidak nyaman, biasanya dalam bentuk kecemasan, muncul karena terjadi konflik antara Ego Personality (baca: Program) yang berusaha mempertahankan status quo “melawan” Ego Personality yang mau mengeksekusi sugesti yang berasal dari operator. Semakin intens konflik yang terjadi maka akan semakin intens perasaan tidak nyaman.
Salah satu faktor penentu keefektifan sugesti, selain semantik, adalah kedalaman rileksasi pikiran atau trance. Kedalaman ini berhubungan erat dengan keaktifan critical factor yang berfungsi sebagai filter mental dalam menyaring berbagai informasi yang akan masuk ke pikiran bawah sadar, dan sudah tentu dalam hal ini termasuk sugesti. Untuk memudahkan mengingat, gunakan aturan ini: semakin rileks pikiran maka semakin besar kemungkinan sugesti diterima tanpa dikritisi dan dijalankan.
Jadi, sugesti yang masuk ke pikiran bawah sadar untuk bisa dilaksanakan sebenarnya melewati tiga tahap. Pertama, sugesti ini harus bisa melewati critical factor. Untuk inilah kita membutuhkan kondisi hipnosis. Semakin dalam kondisi hipnosis maka semakin lemah critical factor. Kedua, sugesti harus bisa melewati empat filter yang ada di pikiran bawah sadar. Dan ketiga, sugesti ini tidak mendapat penolakan dari program pikiran yang sudah terlebih dulu ada di pikiran bawah sadar.
Bagaimana bila ternyata ada penolakan dari pikiran bawah sadar dan terapis tidak punya kecakapan untuk mencari dan menemukan sumber penolakan?
Ada cara lain yang juga sangat efektif. Setiap program pikiran punya “power” atau kekuatan. Semakin kuat suatu program maka semakin besar resistensi yang ia akibatkan. Berpedoman pada pemahaman ini maka kita dapat mengurangi atau melemahkan kekuatan program pikiran yang menolak sugesti yang kita berikan.
Caranya? Kita bisa menggunakan Hypn-EFT. Ini adalah adalah satu teknik yang sangat ampuh untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan kekuatan program pikiran yang menghambat perubahan. Untuk jelasnya mengenai Hypno-EFT anda bisa membacanya di buku saya yang berjudul Quantum Life Transformation atau The Miracle of MindBody Medicine.
Di artikel yang lalu saya telah mengulas mengenai sugesti langsung (direct suggestion) dan sugesti tidak langsung (indirect suggestion). Dalam artikel ini saya akan menjelaskan beberapa hal tentang sugesti yang saya pelajari dari beberapa literatur penting yang khusus membahas topik ini. Tujuan penulisan artikel ini adalah sebagai sumbangan pemikiran untuk memperkaya pengetahuan dan memperluas wasasan kita bersama.
Definisi Sugesti
Apakah sugesti itu? Ada banyak definisi yang diberikan oleh para pakar. Masing-masing praktisi hipnosis / hipnoterapi tentunya juga punya definisinya sendiri. Saya yakin Anda pasti juga punya definisi sendiri. Berikut ini saya ajukan dua definisi sugesti.
Pertama, definisi sugesti dari sudut pandangan populer atau kamus. Sugesti adalah pengaruh yang halus, hampir tidak kentara, yang dialami seseorang tanpa ia sadari, di mana sumber pengaruh ini berasal dari orang lain, yang mengakibatkan timbulnya respon dalam diri orang ini tanpa ia menyadari sumber atau asal pengaruh (sugesti) dan seringkali juga tanpa menyadari kejadiannya.
Definisi yang lebih teknis menyatakan bahwa sugesti adalah komunikasi bermakna yang secara sengaja, terstruktur, dan sistematis dilakukan oleh seseorang, bisa disebut sebagai hipnotis, suggestor, operator, hipnoterapis, terhadap orang lain, yang disebut sebagai subjek, klien, atau suggestee, dengan tujuan membangkitkan respon secara sukarela di pihak subjek, yang mana respon ini tidak akan timbul tanpa adanya sugesti.
Sugesti Ditinjau dari Efek di Pikiran dan Respon
Bila dilihat dari proses pemberian sugesti hingga sugesti dijalankan maka kita mengenal dua proses. Proses pertama adalah afferent yaitu masuknya sugesti ke pikiran seseorang, dimengerti, dan diterima oleh pikiran bawah sadarnya. Setelah diterima maka sugesti ini dijalankan dalam bentuk respon tertentu. Ini disebut dengan efferent.
Sugesti Ditinjau dari Kepatuhan dan Ketelitian Pelaksanaan
Ditinjau dari aspek kepatuhan dan ketelitian pelaksanaan sugesti maka kita juga mengenal dua jenis sugesti. Pertama, sugesti yang bersifat immediate, yaitu sugesti yang menghasilkan respon tindakan yang sepenuhnya sejalan dengan instruksi yang diberikan. Contohnya bila operator mensugestikan subjek mengambil buku maka subjek mengambil buku.
Kedua, sugesti yang bersifat mediate. Dalam hal ini klien menjalankan instruksi yang diberikan namun tidak sepenuhnya sama dengan yang disugestikan. Contohnya bila operator mensugestikan subjek untuk mengambil buku dan subjek ternyata “memutuskan” mengambil pensil. Subjek tetap menjalankan sugesti “mengambil sesuatu” namun tidak persis sama seperti yang disugestikan oleh operator.
Jenis Sugesti
Bila ditinjau dari pelaku, waktu, kondisi pikiran saat sugesti diberikan, struktur kalimat, dan efeknya maka kita mengenal beberapa jenis sugesti berikut:
- Autosuggestion: Sugesti yang dilakukan oleh seseorang kepada dirinya sendiri.
- Heterosuggestion: Sugesti yang diberikan seseorang kepada orang lain.
- Hypnotic Suggestion: Sebuah sugesti yang diberikan saat subjek berada di dalam kondisi hiposis.
- Posthypnotic Suggestion: Sugesti yang diberikan kepada subjek di dalam kondisi hipnosis dan dijalankan saat subjek sudah keluar dari kondisi hipnosis.
- Prehypnotic Suggestion: Sugesti non-hipnotik yang diberikan sebelum induksi.
- Direct Suggestion: Sugesti yang bersifat langsung, eksplisit, apa adanya, dan dengan jelas menyatakan efek yang akan terjadi atau diharapkan terjadi.
- Indirect Suggestion: Sugesti yang bersifat tidak langsung, implisit, dan mengisyarakat apa yang akan terjadi atau diharapkan terjadi.
- Non-therapeutic Suggestion: Sugesti yang tidak memberikan efek terapeutik.
-Therapeutik Suggestion: Sugesti yang memberikan efek terapeutik.
Elemen Sugesti
Yang dimaksud dengan elemen adalah berupa teknik, prosedur, dan berbagai hal lain secara langsung maupun tidak berpengaruh dalam membuat suatu sugesti efektif.
Mendapatkan Perhatian Subjek
Hipnotis/hipnoterapis umumnya mendapatkan perhatian subjek dengan berkata, “Perhatikan sungguh-sungguh apa yang saya katakan………” , “Dengarkan kata-kata saya… hanya kata-kata saya….”
Goal
Operator harus mempunyai goal atau tujuan spesifik dan jelas dalam pikirannya. Semakin sederhana goal-nya semakin baik. Terutama bila operator memberi sugesti kepada subjek dengan tingkat sugestibilitas yang tidak terlalu tinggi. Sangat tidak dianjurkan bila operator memberi beberapa sugesti yang berbeda sekaligus terutama pada subjek dengan tingkat sugestibilitas yang rendah atau menengah.
Variety (Keragaman)
Seringkali operator tidak tahu sugesti seperti apa yang akan memberikan hasil seperti yang diharapkan. Untuk itu operator perlu cerdas dan kreatif dalam memberikan sugesti yang beragam namun dengan tujuan mencapai goal yang sama. Dengan demikian yang terjadi sebenarnya adalah efek compunding dari sugesti yang “berbeda” namun sebenarnya punya tujuan yang sama.
Preferensi Modalitas Sensori
Operator juga perlu memperhatikan modalitas utama subjek. Penggunaan kata atau kalimat dengan menekankan pada modalitas, bila tidak sejalan dengan modalitas utama subjek, tidak akan memberikan pengaruh maksimal seperti yang diharapkan. Solusinya adalah dengan menggunakan modalitas yang berbeda secara bergantian. Misalnya, “Rasakan tangan anda mulai bergerak…. lihat dalam pikiran anda, tangan anda semakin mendekat dan mendekat….” atau “Sambil anda membayangkan tangan anda bergerak, anda juga dapat merasakan gerakannya ……..”
Feedback dan Ratification
Seringkali subjek tidak menyadari respon mereka terhadap sugesti yang diberikan oleh operator. Untuk memperkuat efek sugesti, meningkatkan respon, maka operator dapat memberitahu subjek apa yang sedang subjek alami. Konfirmasi ini menjadi sugesti lanjutan dan merupakan umpan balik pada subjek. Contohnya: “Tangan anda bergerak....” atau “Napas anda sekarang semakin lambat…...”
Linking
Di sini operator menghubungkan beberapa sugesti atau respon yang berbeda. Misalnya: Mata anda telah menjadi begitu lelah, anda mengalami kesulitan untuk tetap membuka mata anda. Atau kita dapat menghubungkan dua respon yang berbeda: “Saat tangan Anda turun, anda menjadi semakin rileks….”
Leading
Dalam hal ini operator tidak melaporkan respon yang subjek tujukkan atau alami namun sebaliknya justru memberikan prediksi apa yang akan tejadi berikutnya. Prediksi ini berlaku sebagai sugesti yang akan dijalankan oleh subjek. Operator perlu cermat untuk hanya menyampaikan prediksi yang besar kemungkinannya terjadi. Misalnya, setelah operator memberi sugesti bahwa mata subjek semakin berat, mulai berkedip, ia menambahkan, “… dan mata anda semakin berkedip…. semakin sering berkedip…..”
Pada contoh di atas yang terjadi, selain leading, adalah umpan balik tidak langsung (indirect feedback) dan menghubungkan secara tidak langsung (indirect linking). Pada kebanyakan kasus, leading, linking, dan feedback saling berpadanan dan menguatkan.
Tracking dan Guidance (T&G)
Untuk bisa mencapai goal atau tujuan yang diharapkan operator tidak hanya sekali memberikan sugesti namun ia bertindak seperti pilot yang mengarahkan pesawat (baca: pikiran subjek) melalui proses navigasi secara berkesinambungan yang melibatkan feedback, leading, dan linking hingga tercapai hasil yang diinginkan.
Utilization
Utilization, dalam konteks ini, adalah memperlakukan repson subjek, yang sebenarnya terjadi bukan karena sugesti, pada saat sugesti diberikan, seolah-olah adalah bagian dari respon yang diharapkan. Erickson mendefiniskan “utilization” sebagai penerimaan terhadap perilaku apa saja yang “ditawarkan”, lebih tepatnya dihasilkan oleh subjek dan menggunakannya untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Chunking dan Compounding
Seringkali untuk mencapai tujuan akhir yang “besar” operator memberikan sugesti secara bertahap. Setiap sugesti yang dijalankan oleh subjek merupakan langkah yang membawa subjek semakin dekat dengan tujuan akhir. Sugesti-sugesti “kecil” ini bersifat compunding.
Graded Suggestions
Elmen Elemen ini dengan yang di Chunking dan Compounding namun berbeda. Graded Suggestion diawali dengan memberikan sugesti yang sangat mudah dijalankan, dan setelah dijalankan, operator memberikan sugesti baru yang semakin lama semakin sulit.
Repetitions
Repetisi di sini tidak berarti pengulangan kata atau kalimat yang sama dengan susunan yang sama. Setiap kata atau kalimat dapat digunakan sejauh mereka masih dalam tema yang sama dan bertujuan mencapai hasil yang sama.
Double Binds
Ini adalah prosedur di mana sebuah sugesti menghubungkan hasil yang diinginkan dengan salah satu pilihan dari dua hal yang relevan namun bukan berupa efek atau hasil dari sugesti yang diberikan. Prosedur ini dikenalkan oleh Milton Erickson (yang kemudian salah dikenali oleh Jay Haley sebagai double-bind), sebagai cara untuk mengatasi resistensi. Contohnya adalah seorang klien diminta memilih salah satu dari dua kursi yang tersedia sebagai kursi yang akan ia duduki saat dihipnosis oleh operator.
The Passive Set
Dalam prosedur ini operator mengeluarkan komponen “Anda” dari konteks “yang sedang terjadi”. Subjek, dalam hal ini, bersifat pasif dan semua responnya terjadi secara otomatis tanpa peran sertanya secara sadar. Hal ini dicapai dengan operator mengubah kalimat “Anda mengangkat tangan Anda…..” dengan “Tangan Anda bergerak naik……”, atau “Sekarang Anda merasa lebih tenang…..“ dengan “Perasaan nyaman sekarang menyelimuti diri Anda.”
Menyusun Sugesti
Pengetahuan yang telah diuraikan di atas tentu sangat bermanfaat untuk menyusun sugesti yang efektif. Untuk bisa menyusun sugesti yang efektif operator perlu mengikuti aturan baku.
Total ada dua belas aturan. Aturan yang umum diketahui dan digunakan oleh para hipnotis atau hipnoterapis antara lain:
1.Sugesti menggunakan kata “Saya……”
2.Menggunakan kalimat atau kata yang positif.
3.Menggunakan kalimat sekarang
4.Spesifik
5.Ada deadline
Di kesempatan yang akan datang saya akan jelaskan tujuh aturan lain yang sangat penting dalam penyusunan sugesti.
“Aduh kasihan ya si Budi. Tadi malam masih sehat. Pagi ini bangun tidur lumpuh karena kena stroke” ujar Anto.
“Tapi yang aneh, barusan saya dapat kabar dari istrinya, Budi sudah di-MRI dan CT Scan. Kata dokter hasil scanning-nya bagus. Tidak ada yang bermasalah dengan otak atau saraf Budi. Dokter menyimpulkan Budi tidak kena stroke” jelas Mia.
“Kalau bukan stroke lalu kena apa ya dia? Tubuhnya lemah sekali dan lumpuh, tidak bisa digerakkan” tanya Anto penasaran.
Pembaca, pernahkah anda mendengar perbincangan serupa dengan yang saya tulis di atas? Atau anda sendiri pernah mengalaminya. Hasil pemeriksaan medis menyatakan tubuh fisik anda sehat namun anda (merasa) sakit. Inilah yang disebut dengan penyakit psikosomatis.
Secara khusus saya membahas hal ini di buku saya yang segera terbit di penghujung bulan Juni, The Miracle of MindBody Medicine: How to Use Your Mind for Better Health. Hasil riset yang kami lakukan di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology menemukan bahwa ada 15 (lima belas) faktor yang dapat menyebabkan seseorang mengalami penyakit psikosomatis.
Salah satunya adalah mimpi. Anda mungkin bertanya, “Lho, kok bisa mimpi membuat orang sakit?” Untuk mendapat jawabannya anda perlu membaca keseluruhan artikel ini. Sebelum menjelaskan mengenai Hypnotic Dream Restructuring Technique saya akan jelaskan sekilas mengenai mimpi.
Ada dua jenis tidur yaitu tidur REM (rapid eye movement) dan tidur non-REM (non-rapid eye movement). Masing-masing dengan karakteristik yang berbeda pada aspek fisik, saraf, dan psikologis. American Academy of Sleep Medicine (AASM) selanjutnya membagi NREM menjadi tiga tahap yaitu N1, N2, dan N3. N3 disebut dengan tidur delta (delta sleep) atau slow-wave sleep (SWS).
Tidur REM pada manusia dewasa meliputi 20-25% dari total waktu tidur. Mimpi yang biasanya kita ingat, setelah bangun tidur, adalah mimpi yang terjadi di tahap ini. Literatur mengenai mimpi pada umumnya menyatakan bahwa mimpi tidak terjadi di tahap tidur non-REM.
Namun riset yang dilakukan Rechstaffen, Verdone, dan Wheaton, dan juga riset oleh Foulkes menyatakan pada saat tidur non-REM ada muncul banyak bentuk pikiran.
Pengkajian mendalam terhadap berbagai laporan yang dipublikasi sejak tahun 1956, yang berasal dari berbagai laboratorium yang khusus meneliti mengenai mimpi, sampai pada satu kesimpulan bahwa mimpi mempunyai dua komponen:
1.Aliran bentuk pikiran yang normal.
2.Bentuk-bentuk pikiran yang intens.
Mimpi yang kita ingat, saat bangun tidur, adalah komponen pertama yaitu aliran bentuk pikiran yang normal. Bentuk pikiran ini tidak mengganggu atau menimbulkan masalah. Namun lain halnya dengan bentuk pikiran yang intens.
Bentuk pikiran intens yang muncul saat fase tidur non-REM sulit atau tidak dapat diingat namun berpengaruh sangat kuat baik terhadap pikiran maupun tubuh kita, setelah kita bangun tidur.
Mengapa bentuk-bentuk pikiran yang intens berpengaruh sangat kuat pada diri kita?
Hal ini dapat terjadi karena pola gelombang otak saat fase tidur non-REM, khususnya pada tahap tiga dan empat, yang diukur di laboratorium mimpi, serupa dengan pola gelombang otak saat seseorang dalam kondisi hipnosis yang dalam (deep trance / profound somnambulism). Dengan demikian bentuk pikiran yang muncul pada fase ini berlaku seperti sugesti pascahipnosis yang diberikan saat seseorang dalam kondisi hipnosis yang dalam.
Klien dengan masalah emosi atau fisik sering merasa bahwa sesuatu terjadi di malam sebelumnya. Mereka hanya mampu mengingat sebagian kecil mimpi yang menurut mereka tidak penting. Namun hasil penggalian mendalam di pikiran bawah sadar menemukan bahwa gangguan emosi atau fisik mulai terjadi setelah munculnya bentuk pikiran yang intens yang justru tidak mereka ingat.
Walaupun bentuk pikiran intens tidak dapat diingat namun dengan menggunakan teknik uncovering khusus bentuk pikiran ini dapat diakses dan diingat kembali sehingga dapat diproses. Begitu bentuk pikiran ini berhasil diproses maka pengaruhnya hilang dengan sendirinya dan klien sembuh.
Hypnotic Dream Restructuring Technique
Hingga saat ini kami telah berhasil mengembangkan dan menyempurnakan dua jenis teknik memproses mimpi. Teknik pertama adalah untuk identifikasi dan menemukan mimpi (bentuk-bentuk pikiran yang intens) yang menimbulkan masalah pada diri klien dan dilanjutkan teknik restrukturisasi yang bertujuan menetralisir kekuatan dan pengaruh mimpi.
Teknik ini membutuhkan kedalaman hipnosis yang spesifik yang dikombinasikan dengan teknik uncovering khusus seperti projective techniques, projection into the future, somato-auto response, retrograde dan chronological search, untuk menemukan bentuk-bentuk pikiran yang intens.
Teknik kedua, menggabungkan antara kondisi hipnosis dan teknik Gestalt yang dikembangkan Frederick “Fritz” Perls, digunakan bila klien dapat mengingat mimpi atau mengalami mimpi berulang dalam kurun waktu tertentu di mana mimpi ini selalu dalam satu pola atau tema tertentu.
Untuk memproses mimpi jenis ini lebih mudah karena klien dapat mengingat dengan jelas mimpinya. Walau dibilang mudah namun sebenarnya teknik kedua ini, dari pengalaman kami, bisa berkembang dan melibatkan banyak teknik lainnya seperti Affect Bridge, Ego Personality Therapy, rescripting, dan juga forgiveness. Mimpi adalah salah satu dari lima cara yang digunakan pikiran bawah sadar untuk berkomunikasi dengan pikiran sadar.
Ada yang mengalami mimpi berulang selama beberapa hari. Ada yang mengalami mimpi yang sama atau dengan tema yang sama selama beberapa minggu atau bulan. Salah seorang rekan saya bahkan mengalami mimpi yang sama atau serupa selama hampir dua puluh tahun.
Informasi yang disampaikan oleh pikiran bawah sadar dalam bentuk mimpi merupakan manifestasi dari salah satu sifat pikiran bawah sadar, yang kami temukan dari hasil riset, yaitu pikiran bawah sadar sangat menyadari pentingnya resolusi trauma namun ia bukan problem solver.
Dengan memberitahu adanya masalah melalui mimpi, pikiran bawah sadar berharap kita tanggap dan merespon dengan mencari tahu apa makna dari mimpi atau pesan itu dan segera menyelesaikan apapun masalah yang tersimpan di pikiran bawah sadar.
Artikel ini terinspirasi dari kejadian saat saya melakukan live therapy di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology di minggu kedua.
Seorang wanita hadir di tengah kami sebagai klien untuk sesi hipnoterapi. Sudah menjadi bagian dari program pelatihan Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy selama ini bahwa di minggu kedua saya pasti melakukan live therapy minimal pada 2 (dua) klien yang berasal dari luar peserta. Hal ini bertujuan agar para peserta pelatihan dapat melihat secara langsung bagaimana saya melakukan sesi terapi di ruang praktik saya. Ini juga untuk menunjukkan bagaimana menggunakan berbagai pengetahuan, pemahaman, teori pikiran, dan teknik intervensi klinis yang telah diajarkan dalam praktik sesungguhnya.
Klien, sebut saja Wati, datang pagi hari sekitar pukul 10.00. Sebelum bertemu kami di kelas Wati diminta untuk mengisi intake form. Setelah semuanya siap Wati diminta masuk ke dalam ruang pelatihan. Di dalam ruang ini sudah tersedia satu kursi terapi, persis sama seperti yang saya gunakan di ruang terapi, dan ditempatkan di bagian depan ruang.
Saya mempersilahkan Wati duduk sambil berkenalan. Seperti biasa saya selalu menanyakan apakah klien merasa nyaman bila diterapi sambil disaksikan oleh para peserta pelatihan saya. Wati menjawab bahwa ia merasa nyaman.
Berdasar isian intake form saya tahu bahwa Wati ingin mengatasi rasa tidak percaya dirinya. Saya mulai melakukan wawancara untuk menggali lebih banyak data mengenai diri Wati antara lain kapan terakhir kali ia merasa tidak percaya diri, dengan siapa saja bila ia berbicara perasaan ini muncul, dalam situasi apa saja atau di mana perasaan ini muncul, mulai kapan ia merasakan perasaan tidak percaya diri, dst..dst.
Saat sedang serius bertanya pada Wati saya mulai melihat raut wajahnya berubah. Matanya mulai merah dan berair. Saya tahu, dari pengalaman menangani klien, ada sesuatu yang lebih besar atau lebih penting yang ingin disampaikan oleh pikiran bawah sadar Wati pada saya.
Dan benar, semakin Wati menceritakan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan tidak percaya diri, semakin wajahnya berubah dan ia mulai menangis. Saat tangisannya semakin hebat saya minta Wati untuk menutup mata dan bertanya, “Apa yang anda rasakan?”, Wati menjawab, “Saya merasa kesepian."
Nah, benar kan. Emosi yang muncul ternyata bukan perasaan tidak percaya diri tapi kesepian. Apa yang harus dilakukan? Saya langsung memproses perasaan kesepian ini. Dengan menggunakan teknik affect bridge saya melakukan regresi untuk mencari akar masalah atau saat pertama kali ia merasakan perasaan kesepian dalam hidupnya.
Regresi pertama membawa Wati mundur ke usia 6 tahun. Saat itu ia di rumah dan tidak ada seorangpun di rumah menemaninya. Ia merasa kesepian. Saat saya cek ternyata ini bukan ISE (Initial Sensitizing Event) tapi SSE (Subsequent Sensitizing Event).
Kembali saya melakukan affect bridge. Kali ini terjadi hal yang aneh. Walau sebenarnya saya tahu karena pernah membaca mengenai hal ini namun selama ini saya belum pernah mengalami kejadian ini.
Apa yang terjadi?
Saat saya melakukan regresi yang kedua, secara teori dan logika untuk bisa menemukan ISE, Wati harusnya mundur ke usia yang lebih muda. Namun kali ini regresi tidak bekerja seperti yang seharusnya. Wati bukannya mundur (regres) ke usia di bawah 6 tahun malah melompat maju (progres) ke usia saat SMP. Dengan demikian saya tahu bahwa regresi ini tidak berjalan seperti yang seharusnya.
Segera saya kembalikan Wati ke usia 6 tahun dan dari sini saya kembali melakukan affect bridge. Dan kembali Wati mengalami progresi. Dari usia 6 tahun ia melompat maju ke masa SMA.
Dua kali gagal melakukan regresi mengharuskan saya segera berpikir cepat untuk bisa mengatasi kondisi ini. Apa yang saya lakukan?
Dengan cepat saya mengganti teknik. Kalau tadinya saya menggunakan regresi dengan affect bridge, dan ini tidak berhasil, kali ini saya menggunakan Ego Personality Therapy (EPT). Kebetulan saya juga telah mengajarkan EPT pada peserta pelatihan. Dengan demikian ini adalah kesempatan emas untuk menunjukkan bagaimana menggunakan EPT dalam terapi riil.
Dengan menggunakan EPT saya berhasil melakukan regresi ke awal mula munculnya perasaan kesepian ini. Dan dari sini saya memproses Ego Personality yang mengalami kesepian. Ada banyak hal yang dilakukan dalam proses ini. Singkat cerita terapi berhasil diselesaikan dengan sangat baik.
Begitu selesai, peserta bertepuk tangan dan merasa sangat bahagia dengan perubahan yang dialami oleh Wati. Apa yang terjadi? Wajah Wati tampak jauh lebih ceria, inner beauty-nya keluar dan terpancar dengan kuat, ia tampak sangat lega, dan raut wajah yang tadinya, sebelum terapi, tampak kusam kini tampak berbinar-binar.
Setelah Wati meninggalkan ruang pelatihan saya membahas apa yang terjadi dengan peserta pelatihan.
Jadi, apakah yang sebenarnya terjadi pada Wati?
Fenomena yang terjadi pada Wati dalam dunia hipnoterapi dikenal dengan screen memory. Screen memory adalah satu memori yang berfungsi sebagai tembok penghambat agar seseorang tidak dapat mengakses memori di usia tertentu. Ini adalah satu bentuk defense mechanism yang dipasang oleh pikiran bawah sadar. Dalam hal ini screen memory Wati ada di usia 6 tahun.
Screen memory bertujuan untuk melindungi seseorang agar tidak dapat mengakses memori tertentu dengan muatan emosi yang sangat intens. Dari pengalaman praktik selama ini, dan juga dari pengalaman alumni QHI, kami jarang bertemu dengan kasus seperti yang dialami Wati.
Apakah screen memory ini bisa ditembus?
Sudah tentu bisa. Namun karena saya tidak mengajarkan teknik ini di kelas Scientific EEG & Clinical Hypnotherapy 100 jam, dan hanya diajarkan di level advanced, terpaksa saya tidak boleh menggunakannya. Bila saya sudah mengajarkan teknik untuk menembus screen memory maka saya akan lanjut dengan teknik ini dan menemukan ISE dengan menembus screen memory. Teknik ini juga dapat digunakan untuk menembus amnesia yang dilakukan pikiran bawah sadar.
Apakah ada kemungkinan lain, selain screen memory, yang membuat Wati bukannya mengalami regresi tapi justru progresi?
Ada beberapa kemungkinan seorang klien tidak bisa mengalami regresi seperti yang diarahkan terapis. Kemungkinan ini antara lain:
• emosi klien kurang intens: bisa disebabkan oleh teknik yang kurang pas dan bisa juga karena emosi klien memang sudah terkuras banyak sebelum terapis memutuskan melakukan affect bridge.
• klien tidak mengerti instruksi terapis.
• terapis tidak memastikan bahwa klien benar-benar terhubung dengan emosinya.
• terapis kurang asertif dalam mengarahkan regresi.
• klien merasa takut. Dalam proses terapi ini saya memang belum sempat menjelaskan hal-hal yang harus diketahui klien dan untuk mengkondisikan pikirannya menjalani proses terapi. Saya putuskan untuk langsung melakukan terapi karena saat klien menangis ia telah masuk kondisi deep trance (emotionally induced induction).
Setiap terapi adalah hal yang unik, sangat individual, dan apa saja bisa terjadi. Itu sebabnya sebagai trainer saya selalu mengajarkan dasar teori pikiran secara lengkap dan menyeluruh baru setelah itu mengajarkan sangat banyak teknik intervensi klinis. Baik yang dulu saya pelajari dari berbagai buku dan trainer saya maupun yang dikembangkan atau diciptakan oleh Advanced Research & Development Team di Adi W. Gunawan Institute of Mind Technology.
Saya juga pernah bertemu dengan kasus di mana terapi tidak bisa berjalan seperti yang diharapkan saat saya menggunakan teknik Ego Personality Therapy. Walau sudah lebih dari 30 menit saya menggunakan segala pengetahuan dan kreativitas dengan teknik Ego Personality Therapy namun pikiran bawah sadar klien “ngambek” dan tidak bersedia bekerjasama.
Terpaksa saya harus mengganti teknik lain. Baru setelah menggunakan teknik lain saya berhasil mencapai hasil seperti yang diinginkan oleh klien saya. Cukup riskan bila kita sebagai hipnoterapis hanya menguasai satu atau dua teknik terapi.